Blog · Terbit
Pembeli membayar dari rekening orang lain: kenapa pada Virtual Account hal itu tidak menimbulkan masalah pencocokan sama sekali, dan satu nama di layar pembayar yang sebaiknya bukan nama pembeli
Jawabannya lebih pendek daripada pertanyaannya: pembayarannya masuk, tidak ada yang perlu dilakukan penjual, dan tidak ada satu pun bagian dari sistem yang membandingkan nama pengirim dengan nama pemesan. Sisa artikel ini menjelaskan kenapa begitu, dan satu hal yang memang berubah karenanya, yaitu nama yang dibaca orang lain itu di layar transfernya.
Pertanyaannya muncul hampir tiap hari pada penjualan lewat chat, dan hampir selalu dalam bentuk yang sama. Pembeli mahasiswa dibayari orang tuanya. Satu pesanan rumah tangga dibayar dari rekening pasangan. Pemesan di kantor memesan, lalu rekannya yang memegang kartu yang mentransfer. Kekhawatiran penjual selalu identik: kalau nama pengirimnya tidak sama dengan nama pemesan, apakah pembayarannya akan nyangkut.
Kenapa kekhawatiran itu masuk akal, dan dari mana asalnya
Kekhawatiran itu bukan mengada-ada. Kekhawatiran itu benar, dan benar sepenuhnya, untuk cara menerima pembayaran yang paling banyak dipakai di Indonesia: transfer ke rekening pribadi penjual.
Satu transfer masuk ke rekening biasa hanya membawa tiga hal, yaitu nominal, waktu, dan nama pengirim. Tidak ada kolom yang menyebut pesanan mana yang baru saja dibayar, jadi satu-satunya alat pencocokan yang tersisa adalah nama pengirimnya, dan kadang angka unik di belakang nominal. Di situ nama yang berbeda benar-benar menghentikan pekerjaan: penjual membuka daftar pesanan, tidak menemukan nama itu, lalu harus bertanya balik ke grup chat siapa yang baru saja mentransfer Rp 285.000. Mekanisme lengkapnya dibahas di jualan pakai rekening pribadi dan batasnya.
Yang terjadi kemudian adalah kebiasaan yang ikut terbawa. Penjual yang sudah bertahun-tahun mencocokkan dengan nama pengirim membawa kekhawatiran itu utuh-utuh ke metode pembayaran yang cara kerjanya justru kebalikannya.
Virtual Account membalik arah pencocokannya
Nomor Virtual Account diterbitkan untuk satu permintaan pembayaran. Nomor itu hanya ada karena tagihan itu ada, dan nomor itu berhenti berlaku ketika tagihannya selesai atau kedaluwarsa. Yang menyatakan tagihan mana yang dibayar adalah nomor tujuannya, bukan identitas pengirimnya.
Akibatnya, pertanyaan “siapa yang mentransfer” tidak pernah masuk ke dalam pencocokan. Transfer dari rekening ibu, dari rekening kantor, dari rekening seseorang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemesan, semuanya menghasilkan hal yang persis sama: tagihan itu berubah menjadi succeeded dan event payment.paid terkirim dengan external_id pesanan yang sudah ditulis penjual sejak awal. Nominalnya pun tidak perlu dibedakan antar pesanan, karena nomornya sudah membedakannya. Perbandingan utuhnya ada di Virtual Account dibandingkan transfer biasa.
QRIS lebih tidak terpengaruh lagi, karena QRIS tidak menuntut data pembeli sama sekali. Kode QR-nya sudah membawa nominal dan identitas tagihannya, jadi aplikasi siapa pun yang memindainya membayar tagihan yang benar. Tidak ada nama yang diminta, jadi tidak ada nama yang bisa tidak cocok.
Lalu apa sebenarnya kerja customer.name
Kalau nama pengirim tidak dipakai mencocokkan, wajar kalau muncul pertanyaan kenapa Virtual Account tetap meminta nama pembeli, dan menolak pembuatan tagihan dengan 422 customer_required kalau namanya tidak dikirim.
Nama itu punya dua kerja, dan tidak satu pun di antaranya adalah pemeriksaan identitas. Yang pertama, nama itu tampil di halaman pembayaran. Yang kedua, dan ini bagian yang jarang disadari, salinan nama itu diteruskan ke bank untuk ditampilkan di layar konfirmasi transfer pembayar. Bank hanya menerima huruf Latin biasa, jadi salinan yang dikirim dialihaksarakan ke huruf dan angka ASCII, tanda baca dan simbol dibuang, spasi berulang dirapatkan menjadi satu, lalu hasilnya dipotong pada 30 karakter. Yang disimpan dan dikembalikan Kasera tetap nama utuh yang dikirim penjual, dengan batas umum 120 karakter.
Tidak ada perbandingan antara nama itu dan nama pemilik rekening pengirim, di titik mana pun. Tidak ada pembayaran yang ditahan karenanya, tidak ada penandaan, dan tidak ada yang perlu dikonfirmasi ulang.
Satu hal yang memang berubah, dan ini yang praktis
Karena nama itu yang dibaca pembayar di layar transfernya, maka pada pesanan yang memang dibayari orang lain, nama pembeli adalah pilihan yang buruk.
Bayangkan urutannya dari sisi ibu yang dimintai tolong membayar. Dia menerima nomor Virtual Account lewat chat, membuka aplikasi banknya, mengetik nomornya, lalu layar konfirmasi menampilkan sebuah nama. Kalau nama itu adalah nama anaknya, dia mungkin mengerti. Kalau nama itu nama teman sekamar anaknya yang tidak pernah dia dengar, transfer itu berhenti di layar konfirmasi dan berpindah kembali menjadi pertanyaan di chat. Layar konfirmasi transfer adalah tempat orang paling berhati-hati, dan nama asing di sana membatalkan lebih banyak pembayaran daripada kesalahan teknis mana pun.
Karena itu, isi nama dengan sesuatu yang akan dikenali oleh orang yang benar-benar membuka aplikasi banknya, dan bukan dengan nama pemesan. Nama toko saja sudah cukup. Nama toko beserta nomor pesanan lebih baik lagi, karena pembayar melihat apa yang dibayarnya dan penjual melihat rujukan yang sama pada tangkapan layar yang dikirim balik. Dengan nama toko sepanjang dua kata, susunan seperti <nama toko> ORD-1240 berada di sekitar 20 karakter dan aman dari pemotongan; nama toko lengkap beserta keterangan cabang dan kata Official hampir selalu melewati 30 karakter, terpotong di tengah, dan justru menimbulkan keraguan yang sama.
Aturan pendeknya: nama itu adalah label yang dibaca pembayar, bukan kolom data pembeli. Perlakukan seperti keterangan pada transfer, bukan seperti formulir identitas.
Yang benar-benar tidak tercatat
Ada satu hal yang perlu diketahui sebelum seseorang menyusun kebijakan di atasnya. Kasera Pay tidak memberi tahu penjual rekening siapa yang sebenarnya dipakai membayar.
Yang dikembalikan pada response pembuatan tagihan dan pada webhook payment.paid adalah data yang dikirim penjual sendiri, ditambah nominal, status, dan waktu pembayarannya. Tidak ada kolom berisi nama pemilik rekening pengirim, dan karena itu tidak ada laporan atau ekspor yang bisa menampilkannya.
Bagi hampir semua penjual hal itu tidak menjadi masalah, dan justru itulah yang membuat pencocokan tidak pernah menebak. Hal itu baru menjadi pertimbangan pada dua keadaan. Pertama, kebijakan pengembalian dana yang berbunyi “dana dikembalikan ke rekening asal” tidak bisa dijalankan dari data yang ada, jadi rekening tujuan pengembalian harus ditanyakan saat itu juga. Kedua, penjual yang memang perlu tahu siapa yang membayar, misalnya untuk keperluan administrasi keanggotaan, harus menanyakannya sendiri dan menyimpannya di sistemnya sendiri.
Bukti pembayaran tetap milik tagihannya
Pertanyaan susulan yang paling sering datang adalah soal bukti. Halaman pembayaran tetap hidup setelah lunas dan berubah menjadi halaman bukti yang bisa dibuka ulang, tetapi isi halaman itu adalah data tagihannya. Tidak ada kwitansi yang terbit atas nama orang yang mentransfer, dan Kasera Pay tidak mengirim email apa pun ke pembayar.
Keadaan yang paling sering menabrak hal ini adalah karyawan yang membayar lebih dulu dari rekening pribadinya lalu meminta penggantian ke kantornya. Dokumen yang dibutuhkannya harus datang dari penjual, dan isinya pun tetap merujuk pada tagihannya. Apa saja yang harus ada di dalamnya, dan dari kolom mana masing-masing diambil, dibahas di bukti pembayaran yang diminta pembeli.
Satu hal yang tidak boleh tertukar dengan ini
Pembeli yang dibayari orang lain dan penjual yang menagih atas nama pihak lain adalah dua hal yang berbeda, dan hanya yang kedua yang menyentuh ketentuan layanan.
Pada yang pertama, penjual menagih untuk usahanya sendiri dan uang yang masuk memang miliknya; siapa yang menekan tombol transfer adalah urusan pembeli dengan orang yang membantunya. Pada yang kedua, uang yang masuk ke akun sejak awal bukan milik pemilik akun, misalnya seseorang yang menagihkan pesanan untuk usaha orang lain lalu meneruskannya. Ketentuan layanan menyatakan akun tidak dipakai menerima pembayaran atas nama pihak ketiga tanpa memberi tahu Kasera lebih dulu, jadi bentuk kedua itu perlu dibicarakan sebelum dimulai, bukan sesudah dana masuk. Rekening tujuan pencairan juga tetap harus atas nama orang yang menyelesaikan verifikasi akun, apa pun bentuk usahanya.
Ringkasnya, untuk dijawab di chat
Kalau pembeli bertanya apakah boleh dibayarkan orang lain, jawabannya satu kalimat: boleh, transfer saja ke nomor yang sudah dikirim, dan nama pengirimnya tidak perlu sama. Kalau penjual sedang menyusun integrasinya, satu keputusan yang layak diambil sekarang adalah mengisi nama pembeli dengan nama toko beserta nomor pesanan, karena nama itu memang bukan kolom data pembeli melainkan label yang akan dibaca siapa pun yang membayar. Rujukan teknis kolomnya ada di dokumentasi endpoint pembuatan transaksi.
Pertanyaan yang sering muncul
Pembeli mau bayar pakai rekening orang tuanya. Apakah pembayarannya tetap masuk?
Tetap masuk, dan tidak ada yang perlu dilakukan penjual. Pada Virtual Account, yang menyatakan tagihan mana yang dibayar adalah nomor tujuannya, dan nomor itu diterbitkan khusus untuk satu permintaan pembayaran. Siapa pun yang mentransfer ke nomor itu membayar tagihan itu. Pada QRIS keadaannya lebih sederhana lagi, karena QRIS tidak menuntut data pembeli sama sekali dan kode QR-nya sudah membawa nominal beserta identitas tagihannya.
Apakah nama di customer.name harus sama dengan nama pemilik rekening yang mentransfer?
Tidak, dan tidak ada satu pun bagian dari sistem yang membandingkan keduanya. customer.name bukan pemeriksaan identitas. Fungsinya ada dua: nama itu tampil di halaman pembayaran, dan pada Virtual Account nama itu diteruskan ke bank untuk ditampilkan di layar konfirmasi transfer pembayar. Pembayaran tidak pernah ditahan, ditolak, atau ditandai karena nama pengirimnya berbeda.
Apakah penjual bisa mengetahui rekening siapa yang sebenarnya dipakai membayar?
Tidak dari Kasera Pay. Yang dikembalikan pada response dan pada webhook payment.paid adalah data yang dikirim penjual sendiri saat membuat tagihan, ditambah nominal dan waktu pembayarannya. Tidak ada kolom yang berisi nama pemilik rekening pengirim. Kalau informasi itu memang dibutuhkan, misalnya untuk kebijakan pengembalian dana, penjual harus menanyakannya sendiri dan menyimpannya di sistemnya sendiri.
Nama siapa yang sebaiknya ditulis kalau yang membayar memang orang lain?
Nama yang akan dikenali oleh orang yang membuka aplikasi banknya, yaitu nama toko atau nama toko beserta nomor pesanan. Nama itulah yang muncul di layar konfirmasi transfer pembayar, dan nama seorang pembeli yang tidak dikenal pembayar justru membuat transfer dibatalkan di detik terakhir. Batasnya 30 karakter setelah dialihaksarakan ke huruf Latin biasa, jadi nama toko dua kata beserta nomor pesanan masih aman sementara nama toko lengkap dengan keterangan cabang biasanya terpotong.
Apakah bukti pembayarannya bisa terbit atas nama orang yang mentransfer?
Tidak. Halaman pembayaran tetap hidup setelah lunas dan menjadi halaman bukti yang bisa dibuka ulang, tetapi isinya adalah data tagihannya: nominal, waktu, dan data yang dikirim penjual saat membuatnya. Tidak ada kwitansi yang diterbitkan atas nama pembayar, dan Kasera Pay tidak mengirim email apa pun ke pembayar. Kalau seseorang perlu bukti atas namanya sendiri, misalnya untuk penggantian biaya di kantornya, bukti itu harus dibuat penjual.
Apakah ini sama dengan menerima pembayaran atas nama pihak lain?
Bukan, dan keduanya sering tertukar. Pembeli yang dibayari orang lain adalah urusan pembeli dengan orang itu; penjualnya tetap menagih untuk usahanya sendiri. Menerima pembayaran atas nama pihak lain berarti uang yang masuk ke akun memang bukan milik pemilik akun, misalnya menagihkan untuk usaha orang lain, dan hal itu tidak boleh dilakukan tanpa memberi tahu Kasera lebih dulu sesuai ketentuan layanan. Rekening tujuan pencairan juga tetap harus atas nama orang yang menyelesaikan verifikasi akun.