Panduan · Terbit
Mengirim tautan pembayaran lewat WhatsApp dari dashboard: saldo WhatsApp, isi pesan yang diterima pembeli, dan masa berlaku 60 menit yang tidak tertulis di pesannya
Tautan pembayaran bisa dikirim ke WhatsApp pembeli langsung dari formulir permintaan pembayaran: buka Data pembeli (opsional), isi nomor WhatsApp pembeli, lalu centang Kirim tautan ke WhatsApp. Syaratnya tiga: akun dalam mode Live, nomor pembeli terisi, dan saldo WhatsApp tidak nol. Setiap pesan memakai satu kredit. Yang paling sering terlewat bukan cara mengirimnya, tetapi isi pesannya: pesan hanya menyebut tanggal berlaku, sementara tautan yang dibuat dari dashboard berlaku 60 menit.
1. Mengisi saldo WhatsApp
Saldo WhatsApp ada di Pengaturan → Notifikasi, pada bagian Saldo WhatsApp. Bagian itu menampilkan jumlah kredit, saldo tersedia di akun, dan total rupiah dari jumlah kredit yang dipilih sebelum membeli. Pembelian paling sedikit 20 kredit, dengan pilihan cepat 100, 500, dan 2.000. Ada dua cara membayarnya:
- Potong dari saldo tersedia. Kredit langsung masuk, dan nilainya dipotong dari saldo penjualan yang belum dicairkan. Kalau saldo tersedia tidak cukup, layar menyebut kekurangannya dalam rupiah.
- Bayar QRIS. Halaman pembayaran terbuka di tab baru, dan kredit masuk begitu QRIS-nya dibayar. Cara ini dipakai akun yang belum punya saldo tersedia, misalnya pada minggu pertama berjualan.
Kredit hanya berlaku di mode Live. Di Sandbox bagian itu menyebut hal yang sama, dan pesan tidak pernah dikirim.
2. Membuat permintaan dan mencentang pengirimannya
- Isi nominal, deskripsi, dan metode pembayaran seperti biasa. Deskripsi ikut tampil di pesan, jadi tulis yang dikenali pembeli, misalnya
Hampers Lebaran · INV-0412, bukan kode internal. - Buka Data pembeli (opsional) dan isi Nomor HP pembeli. Format
0812...,62812..., dan+62 812...sama-sama dibaca sebagai nomor Indonesia. Nomor luar negeri ditulis lengkap dengan kode negaranya. - Centang Kirim tautan ke WhatsApp. Kalau email pembeli juga diisi, Kirim tautan ke email pembeli bisa dicentang bersamaan; email tidak memakai kredit.
Pesan dikirim begitu permintaan dibuat, satu kali. Tidak ada tombol kirim ulang lewat WhatsApp pada detail transaksi; untuk mengirim lagi, pakai Salin tautan atau Bagikan tautan lalu kirim dari WhatsApp sendiri. Langkah membuat permintaannya secara umum ada di dokumentasi menerima pembayaran.
3. Isi pesan yang sampai ke pembeli
Pesannya memakai format tetap yang diisi dari permintaan itu:
- nama usaha, seperti yang tercatat di akun;
- nominal;
- deskripsi, atau “Pembayaran” kalau deskripsinya kosong;
- tanggal berlaku, ditulis seperti “11 Oktober 2026”;
- tombol yang membuka halaman pembayaran permintaan itu.
Teksnya tidak bisa diubah, dan tidak ada ruang untuk catatan tambahan. Kalimat pengantar seperti “ini tautan untuk pesanan tadi siang” tetap dikirim penjual sendiri dari percakapan yang sudah ada.
4. Tanggal di pesan, 60 menit di tautannya
Bagian ini yang paling sering menimbulkan komplain. Formulir di dashboard tidak punya kolom masa berlaku, jadi setiap tautan yang dibuat dari dashboard berlaku 60 menit sejak dibuat. Pesan WhatsApp menuliskan tanggal berlakunya tanpa jam. Pembeli yang menerima pesan pukul 10.00 dan membaca “berlaku 11 Oktober 2026” wajar mengira tautannya hidup sampai malam, padahal pukul 11.00 halaman itu sudah tidak menerima pembayaran.
Tiga kebiasaan yang menutup celah itu:
- Kirim saat pembeli siap membayar, misalnya tepat setelah pembeli mengonfirmasi pesanan di chat, bukan malam sebelumnya.
- Tambahkan satu kalimat di chat: “tautan pembayaran berlaku 1 jam”. Kalimat itu tidak bisa masuk ke pesan otomatisnya, tetapi bisa dikirim sesudahnya.
- Siapkan jalur untuk yang terlambat. Tautan yang kedaluwarsa tidak bisa dihidupkan lagi; yang dibuat adalah permintaan baru, dan pesan WhatsApp-nya memakai satu kredit lagi. Urutannya ada di cara menagih ulang pembeli yang tautannya kedaluwarsa.
Masa berlaku yang lebih panjang hanya bisa diatur per permintaan lewat API, dan pertimbangan memilih angkanya ada di artikel masa berlaku tagihan. Pengiriman lewat WhatsApp sendiri tidak tersedia di API.
5. Kapan kredit kembali, dan kapan terpakai
Kredit dipotong sesaat sebelum pesan dikirim. Kalau pesan gagal diserahkan ke WhatsApp, kreditnya dikembalikan dan layar menulis “Pesan WhatsApp gagal dikirim, saldo tidak terpotong. Kirim tautannya manual.” Permintaan pembayarannya tetap dibuat; yang gagal hanya pesannya.
Begitu WhatsApp menerima pesannya, kredit terpakai, termasuk kalau pembeli tidak pernah membukanya. Dashboard tidak menampilkan status dibaca. Yang tercatat adalah Riwayat pemakaian di bagian Saldo WhatsApp: satu baris per pesan, jenis pesannya, deskripsi permintaan, dan nomor tujuan yang disamarkan sampai empat digit terakhir. Kalau pembeli bilang tidak menerima apa pun, baris itu menjawab apakah pesannya berangkat; selebihnya, salin tautan dan kirim manual.
6. Saldo rendah, isi otomatis, dan pengingat langganan
Di bagian yang sama ada Pengingat saldo rendah: satu email ke pemilik setiap kali saldo turun ke batas yang disetel. Di bawahnya, isi otomatis membeli sejumlah kredit dari saldo tersedia begitu batas itu tersentuh, lalu memberi tahu pemilik lewat email. Kalau saldo tersedia tidak cukup, yang terkirim hanya email saldo rendah.
Saldo WhatsApp dipakai bersama oleh semua pesan WhatsApp akun, bukan hanya tautan pembayaran. Toko yang juga memakai menu Langganan menghabiskan kredit untuk pengingat tagihan, pengingat jatuh tempo, pengingat terlambat, bukti bayar, dan pemberitahuan masa coba berakhir, seperti dijelaskan di panduan tagihan langganan bulanan. Saat saldo habis, pengingat WhatsApp berhenti dan pengingat email tetap jalan, sementara pilihan Kirim tautan ke WhatsApp kembali nonaktif. Pasang isi otomatis sebelum hari ramai, bukan sesudahnya.
7. Kapan lebih baik mengirim dari WhatsApp sendiri
Menyalin tautan lalu mengirimnya dari WhatsApp toko tidak memakai kredit apa pun, dan pesannya bisa ditulis bebas, termasuk jam berlakunya. Untuk penjual yang sudah sedang chat dengan pembeli, itu sering jalan yang paling masuk akal; polanya dibahas di jualan lewat WhatsApp dan Instagram.
Pengiriman dari dashboard menang pada tiga keadaan:
- Yang membuat tagihan bukan pemegang ponsel toko, misalnya staf di kasir atau admin di laptop, sehingga tautan tidak perlu dipindahkan ke ponsel lain.
- Pembeli belum pernah chat dengan toko, misalnya pesanan lewat telepon atau formulir, dan nomornya sudah ada di catatan.
- Banyak tagihan dalam waktu singkat, ketika menyalin satu per satu ke percakapan yang benar adalah tempat kesalahan kirim terjadi.
Hitungannya sederhana: satu kredit per tagihan yang dikirim, ditambah satu kredit lagi setiap kali tautan harus dibuat ulang karena kedaluwarsa. Toko yang sering menagih ulang lebih hemat memperbaiki kebiasaan kirimnya daripada menambah kredit.
Pertanyaan yang sering muncul
Bisakah teks pesan WhatsApp-nya diubah?
Tidak. Pesannya memakai format tetap yang diisi empat hal: nama usaha, nominal, deskripsi permintaan, dan tanggal berlaku, ditambah tombol yang membuka halaman pembayaran. Satu-satunya bagian yang bisa diatur penjual adalah deskripsi, jadi tulis deskripsi yang dikenali pembeli, misalnya nama produk dan nomor pesanan.
Apakah tautan bisa dikirim lewat WhatsApp dari API?
Tidak. Pilihan Kirim tautan ke WhatsApp hanya ada di formulir permintaan pembayaran di dashboard. Integrasi API menerima checkout_url pada jawaban create, lalu mengirimkannya lewat saluran milik toko sendiri.
Apakah saldo WhatsApp terpakai di mode Sandbox?
Tidak. Di Sandbox pesan tidak dikirim sama sekali dan saldo tidak dipotong. Saldo WhatsApp hanya untuk mode Live, jadi cara menguji tampilan pesannya adalah satu permintaan Live bernominal kecil ke nomor sendiri.
Kenapa pilihan Kirim tautan ke WhatsApp tidak bisa dicentang?
Pilihan itu tampil tetapi nonaktif selama salah satu syaratnya belum terpenuhi, dan petunjuk di sebelahnya menyebut yang kurang: Butuh saldo WhatsApp kalau saldonya nol, atau Isi nomor WhatsApp pembeli dulu kalau kolom nomor masih kosong. Kolom nomor baru muncul setelah Data pembeli (opsional) dibuka.