Perbandingan · Terbit
QRIS atau uang tunai untuk usaha kecil: potongan yang tercetak di setiap transaksi melawan biaya yang tidak pernah masuk catatan
Jawaban singkatnya: usaha kecil yang melayani pembeli langsung sebaiknya menerima keduanya, dan pertanyaan yang sebenarnya adalah jalur QRIS mana yang dipasang. Uang tunai tidak dipotong apa pun per transaksi, tetapi berbiaya lewat kembalian, uang palsu, selisih kas, dan setoran, yang tidak pernah muncul sebagai satu baris di catatan. QRIS dipotong per transaksi, dan besar potongannya bergantung pada jalurnya. Tunai juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena undang-undang mewajibkan Rupiah diterima.
Tunai tetap wajib diterima
Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang berbunyi: setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran, “kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah”. Undang-undang yang sama memuat ancaman pidana kurungan dan denda bagi yang melanggarnya. Jadi keputusan yang tersedia bagi warung, kios, dan lapak bukan tunai atau QRIS, melainkan seberapa besar porsi QRIS didorong dan lewat jalur apa. Tulisan “bisa bayar QRIS” di meja kasir aman; tulisan “tidak menerima tunai” tidak.
Biaya tunai yang tidak muncul di nota
Tunai terasa gratis karena tidak ada potongan yang tercetak. Biayanya tetap ada, hanya tersebar di empat tempat:
- Kembalian. Laci harus selalu berisi pecahan kecil. Saat pecahan itu habis, pilihannya membulatkan ke bawah, menolak uang besar, atau kehilangan pembeli, dan ketiganya tidak tercatat di mana pun.
- Uang palsu. Satu lembar Rp 100.000 palsu yang lolos menghapus untung bersih yang sama besarnya. Sebagai pembanding, Rp 100.000 setara potongan QRIS lewat Kasera Pay untuk sekitar 235 pembayaran Rp 25.000. Pemeriksaan dilihat, diraba, diterawang tetap perlu dilakukan untuk setiap uang besar, terutama saat antrean ramai.
- Selisih kas. Laci yang dipegang bergantian oleh pemilik, anak, dan karyawan tidak punya catatan per transaksi. Kurang Rp 50.000 di akhir hari tidak bisa ditelusuri ke satu penjualan atau satu orang.
- Menyimpan dan menyetor. Uang yang menumpuk di laci harus dibawa ke bank atau ditaruh di rumah, dengan risiko dan waktu yang ikut menumpuk.
Tidak satu pun dari empat biaya itu bisa dihitung dari luar, karena besarnya bergantung pada usaha itu sendiri. Cara jujur membandingkannya adalah mencatat selama sebulan: berapa kali kembalian habis, berapa rupiah selisih kas, dan berapa lembar uang yang ditolak atau ternyata palsu. Angka itulah lawan tanding potongan QRIS, bukan nol.
Dua jalur QRIS, dua bentuk biaya
QRIS bisa diterima lewat QR statis yang didaftarkan langsung ke bank, satu kode tercetak untuk semua pembeli, atau lewat penyedia seperti Kasera Pay yang membuat kode baru untuk setiap pembayaran dengan nominalnya sendiri. Biaya kedua jalur berbeda bentuk.
Untuk QR statis dari bank, Bank Indonesia memberlakukan MDR QRIS 0 persen untuk transaksi sampai Rp 100.000 di semua kategori merchant mulai 1 Oktober 2026, dan melanjutkan MDR 0 persen sampai Rp 500.000 untuk usaha mikro. Ketentuan itu berlaku pada jaringan pembayaran; tarif akhir yang dikenakan sebuah bank kepada merchant perlu ditanyakan ke bank itu sendiri. Rincian per kategori ada di artikel biaya QRIS 2026.
Di Kasera Pay, QRIS dikenai 0,7% (dibulatkan ke atas) + Rp 250 per pembayaran berhasil, tanpa biaya pendaftaran dan tanpa biaya bulanan. Komponen Rp 250 membuat potongannya terasa pada jajanan:
| Nominal (contoh) | Tunai | QRIS lewat Kasera Pay | Bagian dari nominal |
|---|---|---|---|
| Rp 8.000 | Rp 0 | Rp 306 | 3,8% |
| Rp 20.000 | Rp 0 | Rp 390 | 2,0% |
| Rp 35.000 | Rp 0 | Rp 495 | 1,4% |
| Rp 75.000 | Rp 0 | Rp 775 | 1,0% |
| Rp 150.000 | Rp 0 | Rp 1.300 | 0,9% |
Kalkulator untuk nominal lain ada di halaman biaya transaksi dan pencairan. Untuk penjualan tatap muka bernilai kecil yang diawasi pemiliknya sendiri, QR statis dari bank hampir selalu lebih murah daripada kode per transaksi, dan itu jawaban yang jujur. Perbandingan lengkap kedua jalur, termasuk ke rekening mana uangnya masuk, ada di perbandingan QRIS dari bank dan lewat agregator.
Berdampingan: tunai, QR statis, dan kode per transaksi
| Hal | Tunai | QR statis dari bank | Kode per transaksi (Kasera Pay) |
|---|---|---|---|
| Potongan per transaksi | Tidak ada | Menurut tarif bank | 0,7% + Rp 250 |
| Kembalian | Harus disiapkan | Tidak perlu | Tidak perlu |
| Nominal | Dihitung kasir | Diketik pembeli | Sudah tertera di kode |
| Bukti uang masuk | Uang di tangan | Notifikasi atau mutasi rekening | Status Dibayar per pembayaran |
| Pesanan dari jauh | Tidak bisa | Bisa, dicocokkan manual | Bisa, lewat tautan per pesanan |
| Catatan per transaksi | Harus ditulis sendiri | Baris mutasi | Daftar pembayaran dengan keterangan |
Kapan kode per transaksi sepadan biayanya
Potongan 0,7% + Rp 250 membeli satu hal: setiap pembayaran punya nominal yang tertera dan status sendiri. Itu bernilai dalam empat keadaan. Pertama, pembeli salah mengetik nominal di QR statis, atau mengetik nominal yang sama dengan pembeli lain, sehingga pembayaran tidak bisa dicocokkan dengan pesanannya. Kedua, kasir bergantian dan pemilik tidak berdiri di depan QR, sehingga status per pembayaran menggantikan mata pemilik. Ketiga, pesanan datang lewat WhatsApp atau pre-order dan dibayar dari jauh. Keempat, usaha pernah dirugikan tangkapan layar bukti bayar yang tidak pernah terjadi; pola dan cara menutupnya dibahas di artikel bukti transfer palsu. Kalau tidak satu pun keadaan itu terjadi, QR statis dari bank sudah cukup.
Menutup kas harian saat keduanya dipakai
- Catat penjualan tunai dan QRIS di dua kolom terpisah, sejak transaksi pertama.
- Saat giliran kasir berganti, hitung laci dan cocokkan hanya dengan kolom tunai.
- Cocokkan kolom QRIS dengan daftar pembayaran berstatus Dibayar, atau dengan mutasi rekening untuk QR statis.
- Serahkan barang setelah pembayaran terlihat masuk, bukan setelah layar pembeli ditunjukkan.
- Periksa stiker QR di meja setiap buka dan tutup toko, karena stiker yang ditimpa mengalihkan uang tanpa terasa; caranya ada di artikel QRIS palsu dan stiker yang ditimpa.
Hasil akhirnya dua angka yang masing-masing bisa diperiksa: isi laci melawan kolom tunai, dan daftar pembayaran melawan kolom QRIS. Selisih di salah satunya langsung menunjuk ke tempat yang harus dicari, sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukan laci tunai sendirian.
Pertanyaan yang sering muncul
Bolehkah warung memasang tulisan hanya menerima QRIS?
Sebaiknya tidak. Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang melarang setiap orang menolak menerima Rupiah yang diserahkan sebagai pembayaran, kecuali ada keraguan atas keaslian Rupiah tersebut, dan undang-undang yang sama memuat ancaman pidana kurungan dan denda bagi yang menolaknya. Menawarkan QRIS sebagai pilihan tidak bermasalah; menolak pembeli yang membawa uang kertas itulah yang berisiko.
Untuk jajanan Rp 10.000, mana yang paling murah?
Tunai, kalau kembalian tersedia dan uangnya asli. Di antara jalur QRIS, QR statis dari bank biasanya paling murah untuk nominal sekecil itu, karena Bank Indonesia membebaskan MDR QRIS untuk transaksi sampai Rp 100.000 di semua kategori merchant sejak 1 Oktober 2026; tarif akhirnya tetap perlu ditanyakan ke bank. Lewat Kasera Pay, Rp 10.000 berbiaya Rp 320, atau 3,2 persen.
Kalau pembeli membayar QRIS, bisakah uangnya tetap dicatat sebagai penjualan tunai?
Jangan. Uang QRIS masuk ke rekening atau saldo, bukan ke laci, jadi penjualan yang dicatat sebagai tunai akan muncul sebagai kekurangan saat laci dihitung. Catat dua kolom terpisah sejak hari pertama: tunai yang dihitung dari laci, dan QRIS yang dibaca dari daftar pembayaran atau mutasi.
QRIS juga bisa dipalsukan, bukan?
Bentuknya berbeda dari uang palsu. Yang dipalsukan adalah stiker QR yang ditimpa dengan QR milik orang lain, sehingga uang pembeli masuk ke rekening penipu, atau tangkapan layar bukti bayar yang tidak pernah terjadi. Keduanya ditutup dengan memeriksa nama merchant di layar pembeli dan dengan menyerahkan barang hanya setelah pembayaran terlihat masuk, bukan setelah layar pembeli ditunjukkan.