Blog · 28 Agustus 2026
Biaya QRIS 2026: tarif per kategori usaha, dan yang berubah 1 Oktober
Potongan QRIS yang dikenakan pada merchant disebut MDR, dan besarnya ditentukan oleh dua hal: kategori merchantnya, lalu nominal transaksinya. Hari ini usaha mikro membayar 0 persen sampai Rp 500.000 lalu 0,3 persen di atasnya; usaha kecil, menengah, dan besar membayar 0,7 persen untuk semua nominal. Mulai 1 Oktober 2026, semua kategori merchant bebas MDR untuk transaksi sampai Rp 100.000.
Angka MDR di halaman ini dikutip dari halaman resmi Bank Indonesia tentang MDR QRIS, dan perubahan 1 Oktober dari pengumuman Bank Indonesia yang diberitakan kantor berita ANTARA pada 17 Agustus 2026. Biaya di luar MDR berbeda-beda antar penyedia dan harus dicek satu per satu.
Tarif MDR QRIS per kategori merchant
| Kategori merchant | Berlaku sampai 30 September 2026 | Mulai 1 Oktober 2026 |
|---|---|---|
| Usaha mikro (UMi) | 0% sampai Rp 500.000, lalu 0,3% | Tidak berubah: 0% sampai Rp 500.000, lalu 0,3% |
| Usaha kecil, menengah, besar (UKE, UME, UBE) | 0,7% untuk semua nominal | 0% sampai Rp 100.000, lalu 0,7% |
| Pendidikan | 0,6% | 0% sampai Rp 100.000, lalu 0,6% |
| SPBU | 0,4% | 0% sampai Rp 100.000, lalu 0,4% |
| Layanan publik, BLU, PSO, G2P, P2G, donasi sosial nirlaba | 0% | 0% |
Kategori itu bukan pilihan sendiri. Penyedia yang mendaftarkan merchant yang menetapkannya saat pendaftaran, dan kategori itulah yang dipakai jaringan pembayaran untuk menghitung potongan. Kalau potongan yang terlihat di laporan tidak cocok dengan tabel di atas, pertanyaan pertama bukan “kenapa tarifnya salah” melainkan “akun ini terdaftar di kategori apa”.
Ambang Rp 100.000 membuat tarif efektif melompat
Sesuai bunyi pengumumannya, tarif di atas ambang berlaku atas seluruh nominal transaksi, bukan atas kelebihannya saja, sehingga ada lompatan tepat di titik ambang. Untuk merchant kategori usaha kecil setelah 1 Oktober 2026:
| Nominal transaksi | MDR | Tarif efektif |
|---|---|---|
| Rp 99.000 | Rp 0 | 0% |
| Rp 100.000 | Rp 0 | 0% |
| Rp 105.000 | Rp 735 | 0,7% |
| Rp 250.000 | Rp 1.750 | 0,7% |
Konsekuensinya nyata untuk penetapan harga. Produk yang dibanderol Rp 105.000 menghasilkan Rp 104.265 setelah MDR, sedangkan yang dibanderol Rp 100.000 menghasilkan Rp 100.000 utuh. Selisih harga Rp 5.000 hanya menambah Rp 4.265 bersih. Itu bukan alasan untuk menurunkan harga, tetapi layak diketahui sebelum menaikkannya sedikit di atas ambang.
Memecah tagihan agar di bawah ambang: hitung dulu
Godaan yang muncul setelah membaca tabel di atas adalah memecah satu tagihan Rp 120.000 menjadi dua tagihan Rp 60.000. MDR yang dihemat memang Rp 840. Tetapi setiap penyedia tautan pembayaran mengenakan biaya tetap per transaksi, jadi pecahan kedua menambah satu biaya tetap lagi, dan penghematannya tinggal selisihnya. Pada biaya tetap Rp 250 per transaksi, sisa penghematannya Rp 590 per pesanan.
Harga sebenarnya ada di luar hitungan itu: satu pesanan berubah menjadi dua pembayaran yang bisa lunas separuh. Pembeli membayar tagihan pertama, lupa yang kedua, dan pesanan itu masuk ke antrean tindak lanjut manual yang justru dihindari dengan memakai konfirmasi otomatis. Untuk penghematan Rp 590, biayanya terlalu mahal.
MDR bukan satu-satunya potongan
MDR adalah potongan jaringan pembayaran. Penyedia tautan pembayaran atau payment gateway menambahkan biayanya sendiri di atas itu, dan bentuknya berbeda-beda: persen, biaya tetap per transaksi, atau gabungan keduanya. Ada pula biaya pencairan yang dihitung per pencairan, bukan per transaksi.
Pada 28 Agustus 2026, halaman harga Kasera Pay mencantumkan biaya Kasera Rp 250 per transaksi, dengan MDR QRIS 0,7 persen diteruskan apa adanya tanpa markup, tanpa biaya bulanan dan tanpa biaya pendaftaran. Biaya pencairan Rp 3.000 per pencairan tercantum di syarat layanan. Struktur seperti ini, biaya tetap kecil ditambah MDR yang diteruskan, membuat perubahan 1 Oktober terasa langsung pada transaksi kecil, karena komponen persennya yang hilang.
Tiga hitungan yang mendekati kenyataan
Semua angka di bawah ilustrasi, memakai biaya tetap Rp 250 per transaksi:
| Kasus | Biaya hari ini | Biaya setelah 1 Oktober 2026 |
|---|---|---|
| Toko online kategori usaha kecil, 120 pesanan sebulan, rata-rata Rp 85.000, bruto Rp 10.200.000 | MDR Rp 71.400 + biaya tetap Rp 30.000 = Rp 101.400 | MDR Rp 0 + biaya tetap Rp 30.000 = Rp 30.000 |
| Jasa desain, satu tagihan Rp 1.500.000 | MDR Rp 10.500 + Rp 250 = Rp 10.750 | Sama, Rp 10.750 |
| Warung kategori usaha mikro, 300 transaksi Rp 25.000 | MDR Rp 0 + biaya tetap Rp 75.000 = Rp 75.000 | Sama, Rp 75.000 |
Polanya terbaca dari tiga baris itu. Yang paling diuntungkan perubahan 1 Oktober adalah penjual bernominal menengah di kategori usaha kecil ke atas, karena merekalah yang selama ini membayar 0,7 persen pada transaksi kecil. Merchant mikro sudah bebas MDR sejak lama, jadi yang menentukan biayanya justru komponen tetap per transaksi dan biaya pencairan. Transaksi besar tidak berubah sama sekali.
MDR ditanggung merchant, bukan pembeli
Halaman resmi Bank Indonesia menyatakan MDR ditanggung merchant dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen. Praktik menambahkan baris “biaya QRIS” pada tagihan pembeli bertentangan dengan ketentuan itu. Menetapkan harga jual yang sudah memperhitungkan biaya adalah hal yang berbeda: yang diatur adalah pembebanan MDR sebagai biaya terpisah kepada pembayar QRIS, bukan cara sebuah harga disusun.
Cara memeriksa potongan yang sebenarnya terjadi
Tarif yang berlaku pada satu transaksi hanya bisa dipastikan dari catatan transaksi itu sendiri, bukan dari tabel mana pun. Yang perlu dicari ada tiga angka: nominal bruto, potongan, dan yang diterima, dengan bruto sama dengan potongan ditambah yang diterima. Kalau ketiganya tidak dilaporkan per transaksi, rekonsiliasi bulanan akan selalu berupa tebakan.
Di Kasera Pay ketiganya ada pada objek pembayaran sebagai amount, fee, dan net, dikembalikan pada respons POST /v1/transactions dan terbaca juga di dashboard. Bentuk lengkapnya ada di dokumentasi create payment request. Untuk tarif per metode yang berlaku pada satu akun, GET /v1/payment_methods mengembalikan komponen persen dan komponen tetapnya, sehingga tarif tidak perlu ditulis permanen di kode sendiri. Rinciannya ada di dokumentasi metode pembayaran.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah QRIS statis dan QRIS dinamis kena MDR berbeda?
Tidak. MDR ditentukan kategori merchant dan nominal transaksi, bukan bentuk kodenya. Perbedaan keduanya ada pada pencocokan pembayaran: kode statis menerima banyak pembayaran tanpa membawa identitas pesanan, sedangkan kode dinamis dibuat untuk satu transaksi. Yang menjadi lebih mahal pada kode statis adalah waktu untuk mencocokkan, bukan MDR-nya.
Apakah tarif 0 persen berlaku juga untuk Virtual Account dan kartu?
Tidak. Ketentuan MDR QRIS hanya mengatur QRIS. Virtual Account umumnya dikenai biaya tetap per transaksi, dan besarnya ditentukan penyedia masing-masing.
Kalau ada yang mengaku bisa QRIS 0 persen tanpa syarat, apakah masuk akal?
MDR 0 persen memang nyata untuk nominal dan kategori tertentu, tetapi biaya penyedia di atasnya tetap ada, begitu juga biaya pencairan. Klaim “gratis” layak dicek dengan satu pertanyaan: berapa yang masuk ke rekening untuk pembayaran Rp 50.000, dan berapa untuk mencairkannya.
Untuk gambaran biaya pada skala kecil dan perorangan, termasuk pengaruh jadwal pencairan terhadap penghasilan bersih, ada di panduan payment gateway tanpa PT. Untuk memastikan setiap pembayaran QRIS terkonfirmasi tanpa cek mutasi manual, ada di cara tahu pembayaran QRIS sudah masuk.