Blog · Terbit
Menerima pembayaran di bazar dan acara sekolah saat sinyal tidak bisa diandalkan: pembagian yang menentukan segalanya, dan satu jatah yang habis pada pembeli kesebelas
Di lapangan parkir sekolah, di tenda bazar Ramadan, dan di pasar kaget hari Minggu, satu batang sinyal adalah keadaan normal dan bukan kecelakaan. Kekhawatiran yang muncul selalu berbunyi sama: kalau sinyalnya begitu, apakah pembayaran digital masih bisa dipakai. Jawabannya tergantung pada satu pembagian yang jarang disebut, dan begitu pembagian itu jelas, hampir semua keputusan lain mengikut sendiri.
Pembayaran QRIS menuntut internet di perangkat pembeli, bukan di perangkat penjual. Uang berpindah antara aplikasi pembeli dan penyedia jasa pembayaran berlisensi, lalu dicatat di sisi Kasera Pay. Meja penjual tidak ikut dalam rantai itu. Yang benar-benar rusak saat sinyal penjual buruk bukan pembayarannya, melainkan konfirmasinya, yaitu kemampuan orang di balik meja untuk tahu bahwa pembayaran tadi sudah masuk. Kedua hal itu sering dikira satu, dan hampir semua persiapan yang salah arah berasal dari situ.
Bentuk QR yang tidak menuntut perangkat di meja sama sekali
Ada dua bentuk yang sama-sama sah, dan hanya satu yang tahan di lapangan. Bentuk pertama adalah tautan yang dibuat per pesanan: nominalnya persis, tetapi pembuatannya menuntut sinyal penjual tepat pada saat yang paling buruk, yaitu saat ada antrean di depan meja. Bentuk kedua adalah halaman pembayaran yang dipakai berulang, dicetak sekali sebagai QR, lalu tidak menuntut kerja apa pun per transaksi. Di keadaan bersinyal buruk, bentuk kedua menang telak, karena QR di atas kertas tidak pernah kehabisan sinyal dan tidak pernah kehabisan baterai.
Konsekuensi praktisnya: cetak sebelum berangkat. Halaman itu menyediakan berkas QR yang bisa dicetak atau disimpan sebagai PDF, dan alamat halamannya sebaiknya dipilih sekali sebelum ada yang masuk percetakan, karena mengganti alamat membuat semua barang cetak berhenti berlaku sekaligus. Satu lembar A4 di atas meja, ditambah satu lembar cadangan di tas, lebih andal daripada layar ponsel yang harus terus menyala di bawah matahari.
Nominal: tiga keadaan yang berbeda di meja bazar
Bazar jarang punya satu harga. Halaman berulang menyediakan empat pengaturan nominal, dan tiga keadaan berikut mencakup hampir semua meja. Harga tunggal, misalnya tiket masuk Rp 15.000, memakai nominal tetap, sehingga tidak ada yang bisa salah ketik. Harga berjenjang, misalnya paket Rp 25.000, Rp 50.000, dan Rp 100.000, memakai pilihan nominal yang mengikat, sehingga pembeli memilih dan bukan mengetik. Meja dengan puluhan barang berbeda memakai nominal bebas, dan harganya disebutkan penjual lalu diketik pembayar.
Nominal bebas adalah satu-satunya bentuk yang memindahkan risiko salah ketik ke pembeli, dan di bazar itu risiko nyata: angka nol yang kurang satu tidak akan ketahuan sampai malam. Meja yang bisa memampatkan dagangannya menjadi beberapa paket berharga tetap sebaiknya melakukannya, justru karena hari itu tidak ada yang sempat memeriksa.
Satu Wi-Fi bersama adalah masalah yang tidak terlihat
Aula sekolah dan gedung serbaguna sering menyelesaikan sinyal buruk dengan satu Wi-Fi bersama untuk semua orang. Cara itu memperbaiki satu hal dan menyalakan satu hal lain. Halaman pembayaran publik dibatasi 120 request per menit per alamat IP, dan di ruangan dengan satu Wi-Fi, seluruh hadirin keluar lewat satu alamat IP yang sama. Pada penjualan yang dibuka serempak, yang tertahan adalah pembeli, dan keluhannya sampai ke meja dalam bentuk “halamannya tidak mau dibuka”, bukan dalam bentuk kode galat.
Yang menolong bukan menaikkan angkanya, melainkan memecah antrean menjadi beberapa gelombang, atau membiarkan pembeli memakai data seluler masing-masing untuk membayar dan menyimpan Wi-Fi bersama untuk hal lain. Bentuk batas dan cara menghitungnya dibahas di tulisan tentang rate limit dan lonjakan permintaan.
Jatah yang menghentikan panitia baru, dan tidak ada hubungannya dengan sinyal
Kegagalan paling mahal di acara satu hari hampir tidak pernah soal sinyal. Akun yang belum selesai diverifikasi hanya boleh memakai 10 permintaan pembayaran dan total Rp 1.000.000, dan itu jatah seumur akun, bukan jatah harian yang pulih keesokan harinya. Panitia yang mendaftar tiga hari sebelum acara akan berhenti di pembeli kesebelas, di tengah antrean, tanpa jalan keluar di lokasi. Batas jumlah tagihan per hari sendiri sudah tidak ada untuk akun terverifikasi, sehingga satu-satunya yang benar-benar perlu dikejar sebelum hari-H adalah verifikasinya selesai. Rinciannya ada di halaman batas transaksi, dan langkahnya di panduan verifikasi akun langkah demi langkah.
Batas per pembayaran yang tersisa longgar untuk bazar: QRIS menerima mulai Rp 1.000, dan plafon per pembayaran Rp 10.000.000. Meja makanan dan meja kerajinan tidak akan menyentuhnya. Lelang amal di panggung yang sama bisa menyentuhnya, dan itu perlu diurus sebelum hari-H, bukan saat palu sudah diketuk.
Konfirmasi di meja, dan apa yang menggantikannya saat sinyal hilang
Tanpa sinyal, orang di balik meja tidak bisa memeriksa status pembayaran. Layar “ berhasil” di ponsel pembeli bukan bukti yang setara, karena tangkapan layar semacam itu mudah dibuat dan sudah menjadi modus tersendiri, seperti dibahas di tulisan tentang bukti transfer palsu. Yang masuk akal di lapangan adalah membedakan dua jenis barang.
Barang bernilai kecil yang langsung diserahkan, misalnya makanan seharga belasan ribu, diserahkan saja atas dasar layar pembeli, dan selisihnya diperiksa malam itu. Kerugian terburuknya sepadan dengan antrean yang tidak berhenti. Barang bernilai besar, barang yang dipesan untuk diambil kemudian, dan penyerahan tiket bernomor sebaiknya menunggu konfirmasi sungguhan. Untuk keperluan itu cukup satu orang yang berdiri di titik dengan sinyal paling baik, memegang satu perangkat yang membuka daftar transaksi, dan meja lain mengantre padanya hanya untuk kasus bernilai besar. Satu titik bersinyal jauh lebih murah daripada memaksa setiap meja punya sinyal.
Cara membaca daftar itu sendiri, beserta status yang dicari, dibahas di tulisan tentang cara tahu pembayaran QRIS sudah masuk.
Pemberitahuan menyusul sendiri saat sinyal kembali
Pemberitahuan pembayaran berjalan lewat surel dan lewat notifikasi peramban di perangkat yang sudah diaktifkan, dan keduanya dikirim dari antrean yang tahan menunggu. Perangkat yang kehilangan sinyal selama satu jam tidak kehilangan pemberitahuannya: yang tertahan akan menyusul begitu sambungan kembali. Akibatnya, berdiri di lokasi sambil memuat ulang halaman sepanjang hari tidak menambah informasi apa pun. Perjalanan pulang yang melewati daerah bersinyal baik akan menurunkan seluruhnya sekaligus.
Menutup hari tanpa memeriksa satu per satu
Penutupan dikerjakan setelah pulang, bukan di lokasi. Yang dibuka adalah daftar transaksi pada rentang tanggal hari itu, disaring ke status succeeded, lalu jumlah barisnya dibandingkan dengan catatan penjualan di kertas. Dua selisih yang mungkin muncul punya arti berbeda: baris yang ada di sistem tetapi tidak ada di kertas berarti pencatatan manual yang terlewat saat ramai, sedangkan barang yang tercatat terjual di kertas tetapi tidak punya baris succeeded berarti ada yang pergi tanpa membayar, dan itu satu-satunya angka yang pantas ditelusuri malam itu juga.
Tagihan yang terlanjur dibuat per pesanan lalu tidak dibayar akan berubah menjadi expired sendiri setelah enam puluh menit, jadi tidak ada yang perlu dibereskan satu per satu. Biaya hanya berlaku pada pembayaran yang berhasil, yaitu 0,7% + Rp 250 per pembayaran QRIS, sehingga tagihan yang tidak jadi dibayar tidak menimbulkan biaya apa pun pada rekap kas panitia.
Ringkasnya
- Yang butuh internet adalah pembeli. Meja penjual tidak ikut dalam rantai pembayaran, hanya dalam rantai konfirmasi.
- QR cetak dari halaman berulang adalah bentuk yang tahan di lapangan. Alamat halamannya dipilih sekali, sebelum ada yang dicetak.
- Satu Wi-Fi bersama untuk seluruh ruangan menyalakan batas 120 request per menit per IP, dan yang tertahan adalah pembeli, bukan panitia.
- Jatah sebelum verifikasi adalah 10 permintaan dan Rp 1.000.000 seumur akun. Verifikasi diselesaikan jauh sebelum hari-H, bukan di lokasi.
- Barang kecil diserahkan atas dasar layar pembeli dan diperiksa malam itu. Barang besar menunggu konfirmasi sungguhan di satu titik bersinyal.