Blog · Terbit
Kode QRIS gagal dipindai pembeli: dua layar tanpa QR yang artinya berlawanan, tangkapan layar yang diteruskan lewat chat dan tetap sah sampai jamnya habis, dan satu keadaan yang bukan QR gagal melainkan metodenya memang tidak ditawarkan
Laporannya hampir selalu sampai dalam bentuk yang sama: QR-nya tidak bisa discan. Dari satu kalimat itu tidak ada yang bisa disimpulkan, karena setidaknya lima keadaan yang berbeda menghasilkan keluhan yang persis sama, dan tiga di antaranya selesai tanpa menerbitkan apa pun yang baru.
Urutan yang paling menghemat waktu bukan memeriksa gambar QR-nya, melainkan menanyakan satu hal: kalimat apa yang tertulis di layar pembeli. Kalimat itu yang memisahkan keadaan normal dari kegagalan sungguhan, dan memisahkan keduanya dari keadaan yang sebenarnya bukan soal QR sama sekali.
Satu sebab perlu disingkirkan lebih dulu karena paling sering dan paling cepat selesai: kode QRIS dibaca dari aplikasi bank atau dompet elektronik, bukan dari kamera bawaan ponsel, dan kamera bawaan biasanya hanya menampilkan teks panjang yang tidak bisa dibayar. Sebab itu beserta tiga sebab lain di sisi pembeli sudah dibahas di tulisan tentang pembayaran yang gagal di sisi pembeli. Halaman ini mengambil sisanya, yaitu keadaan yang dilaporkan sebagai QR gagal padahal bukan.
Dua layar tanpa QR, dan artinya berlawanan
Layar pembayaran punya dua keadaan yang sama-sama tidak menampilkan kode QR, dan keduanya sering dibaca sebagai satu hal. Bedanya tegas dan tertulis.
- “Menyiapkan kode QRIS” adalah keadaan normal beberapa saat setelah metode pembayaran dipilih. Kodenya sedang digambar. Layar ini tidak menawarkan jalan keluar apa pun justru karena tidak ada yang perlu dikerjakan, dan menerbitkan tautan baru saat kalimat ini muncul hanya menambah satu tagihan menganggur.
- “Kode QRIS belum tersedia”, disertai “Muat ulang halaman atau minta tautan baru ke penjual”, adalah kegagalan yang sesungguhnya: kodenya diminta dari jalur pembayarannya dan tidak kembali. Urutannya persis seperti yang ditulis di layar. Muat ulang lebih dulu, karena permintaan yang sama sering mengembalikan kodenya pada percobaan kedua, dan baru terbitkan tautan baru kalau memuat ulang tetap kosong.
Di bawah kode yang berhasil digambar selalu ada penanda “Berlaku ... lagi”. Angka itu yang menjawab pertanyaan berikutnya sebelum ditanyakan.
Tangkapan layar yang diteruskan lewat chat tetap sah
Kekhawatiran ini muncul hampir setiap kali pembeli meneruskan QR ke pasangan, ke orang tua, atau ke bendahara yang memegang rekeningnya. Jawabannya: penerusan itu tidak merusak apa pun. Kode QRIS adalah data, bukan tiket yang menempel pada satu perangkat atau satu aplikasi, jadi gambar hasil tangkapan layar membawa muatan yang sama persis dan dibaca sama saja oleh aplikasi bank maupun dompet elektronik mana pun yang mendukung QRIS.
Yang membatalkan sebuah QR hanya dua hal, dan penerusan bukan salah satunya: jamnya habis, atau permintaannya sudah selesai. Kualitas gambar baru berpengaruh pada kasus yang jauh lebih jarang, yaitu tangkapan layar yang dipotong sampai memakan pola sudut QR-nya atau diperkecil sampai kotak-kotaknya menyatu. Kalau kodenya terlihat utuh di layar penerima, kodenya utuh.
Satu akibat dari sifat yang sama layak diketahui sebelum QR dibagikan ke grup: nominalnya terkunci pada satu permintaan pembayaran, jadi satu QR tetap berarti satu tagihan meski dibuka sepuluh orang. Yang membayar lebih dulu menyelesaikannya, dan pembayaran kedua atas pesanan yang sama adalah persoalan tersendiri yang dibahas di tulisan tentang pembayaran yang masuk dua kali. Untuk penagihan yang memang ditujukan ke banyak orang sekaligus, yang dipakai bukan satu QR yang dibagikan melainkan halaman pembayaran yang dipakai berulang.
Jam 60 menit, dan kenapa sesudahnya bukan diperpanjang
Masa berlaku bawaan sebuah permintaan pembayaran adalah 60 menit, dan lewat API nilainya bisa ditentukan sendiri saat permintaan dibuat, dengan plafon akun bawaan 24 jam. Inilah sebab paling sering dari QR yang gagal pada pembeli yang baru sempat membuka chat malam hari: kodenya tidak rusak, jamnya sudah lewat, dan layarnya berpindah ke “Tautan kedaluwarsa” dengan kalimat “Waktu pembayaran sudah habis. Minta tautan baru ke penjual”.
Permintaan yang sudah kedaluwarsa tidak bisa diperpanjang, sehingga yang dikerjakan adalah menerbitkan yang baru. Urutan penerbitan ulang tidak sepele, karena tagihan lama dan tagihan baru bisa hidup berdampingan sebentar, dan urutan yang aman beserta kalimat yang dikirim bersamanya ada di panduan menagih ulang pembeli yang tautannya kedaluwarsa. Yang menenangkan sebelum itu: uang yang tetap masuk setelah jamnya habis tidak hilang. Pembayaran yang diterima jalur pembayarannya tetap diakui meski penanda waktu di sisi Kasera Pay lewat lebih dulu.
Menetapkan masa berlaku yang panjang terdengar seperti pencegahan, dan ada harganya: selama tagihan masih menunggu, barangnya ikut tertahan. Pertimbangannya dibahas terpisah, dan untuk keperluan halaman ini cukup satu aturan praktis. Masa berlaku disesuaikan dengan berapa lama stok memang sanggup ditahan, bukan dengan seberapa lambat pembeli biasanya membalas.
Satu-satunya bentuk QR yang layak dicetak
QR sebuah permintaan pembayaran mengunci nominal dan jam sekaligus. Mencetaknya untuk ditempel di kasir, di spanduk, atau di kemasan karena itu selalu keliru: barang cetaknya sudah mati sebelum tintanya kering, dan pembeli yang memindainya berminggu-minggu kemudian mendapat layar kedaluwarsa tanpa tahu sebabnya.
Yang memang dibuat untuk dicetak adalah halaman pembayaran permanen. Alamatnya tetap, bisa dipakai berulang tanpa batas, dan nominalnya bisa dibiarkan dipilih pembayar, dipatok pada satu angka, atau dibatasi pada daftar angka tertentu. Satu QR yang dicetak sekali karena itu melayani seluruh musim, dan yang berganti hanya isi halamannya.
Keadaan yang bukan QR gagal: metodenya memang tidak ditawarkan
Keluhan yang terdengar paling mirip dengan QR rusak justru bukan soal QR. Setiap metode pembayaran punya batas nominalnya sendiri, dan metode yang batasnya tidak terpenuhi tidak ditawarkan di layar pembayar, tanpa satu pun pesan yang menjelaskan kenapa. Yang dilihat pembeli adalah pilihan yang lebih sedikit daripada yang dijanjikan penjual, dan itu dibaca sebagai kerusakan.
- QRIS menerima mulai Rp 1.000, sampai Rp 10.000.000 per pembayaran.
- Virtual Account menerima mulai Rp 10.000, sampai Rp 10.000.000 per pembayaran.
Kedua angka itu nilai bawaan dan bisa berbeda per akun. Akibat yang langsung terasa: tagihan Rp 5.000 tidak akan pernah menampilkan pilihan Virtual Account, dan itu bukan kesalahan pengaturan. Angka resminya beserta batas lain yang berlaku ada di halaman batas transaksi, dan akibatnya pada penjualan bernominal kecil dibahas di tulisan tentang nominal kecil dan batas minimum per metode.
Kapan memberi nomor Virtual Account lebih cepat daripada memperbaiki QR
Ada titik di mana memperbaiki jalur QR berhenti masuk akal, dan menawarkan jalur lain jauh lebih cepat. Tandanya bukan teknis melainkan siapa pembelinya.
- Pembeli tidak punya aplikasi yang bisa memindai. Rekening bank tanpa mobile banking tetap bisa membayar Virtual Account, termasuk dari mesin ATM dan dari teller, dan urutan lengkapnya ada di tulisan tentang membayar di ATM dengan nomor Virtual Account.
- Pembeli membuka tautan dari komputer. Memindai QR di layar yang sama dengan layar pembayarannya selalu merepotkan, sementara nomor Virtual Account bisa disalin.
- Nominalnya besar. Batas per transaksi di sisi pembeli, yang ditetapkan banknya atau dompetnya sendiri dan bukan oleh penjual, lebih sering mentok pada jalur QR daripada pada transfer ke Virtual Account.
Satu batas yang menutup jalan keluar ini perlu diingat sebelum menawarkannya: Virtual Account mulai dari Rp 10.000. Untuk tagihan di bawah itu, jalur pengganti yang dicari tidak ada, dan yang tersisa adalah memperbaiki jalur QR-nya atau menggabungkan beberapa pesanan kecil menjadi satu tagihan.
Yang tidak terlihat di sisi penjual
Percobaan pemindaian yang gagal tidak meninggalkan jejak apa pun di dashboard. Tagihannya tetap berstatus menunggu, persis seperti tagihan yang belum pernah dibuka siapa pun, jadi tidak ada cara membedakan pembeli yang lima kali mencoba dari pembeli yang belum membaca pesannya. Sebab-sebab kegagalan di sisi pembeli beserta apa saja yang memang tidak terlihat dibahas di tulisan tentang pembayaran yang gagal di sisi pembeli.
Karena itu pertanyaan pertama yang dikirim ke pembeli sebaiknya bukan “sudah dicoba?” melainkan permintaan satu tangkapan layar beserta kalimat yang tertulis di sana. Satu gambar itu menjawab hampir seluruh halaman ini sekaligus.
Ringkasnya
- Kalimat di layar pembeli yang menentukan, bukan gambar QR-nya. Menyiapkan kode berarti ditunggu; belum tersedia berarti dimuat ulang.
- Tangkapan layar yang diteruskan tetap sah sampai jamnya habis, dan satu QR tetap berarti satu tagihan.
- Kedaluwarsa tidak diperpanjang, melainkan diterbitkan ulang, dan uang yang telat masuk tetap diakui.
- Yang layak dicetak hanya halaman pembayaran permanen, bukan QR satu pesanan.
- Metode yang hilang dari layar biasanya soal batas nominal, bukan soal QR yang gagal.
Pertanyaan yang sering muncul
Pembeli mengirim ulang tangkapan layar QR ke orang lain. Masih bisa dibayar?
Masih, selama jamnya belum habis. Kode QRIS adalah data, bukan tiket yang menempel pada satu perangkat, jadi gambar hasil tangkapan layar membawa muatan yang sama persis dengan yang tampil di layar aslinya dan aplikasi pembayaran membacanya sama saja. Yang membatalkannya bukan penerusan itu, melainkan masa berlaku yang lewat. Satu hal yang ikut dari sifat ini: nominalnya terkunci pada satu permintaan pembayaran, jadi satu QR tetap berarti satu tagihan meski dibagikan ke sepuluh orang, dan yang membayar lebih dulu menyelesaikannya.
Layar pembeli tidak menampilkan QR sama sekali. Tautannya rusak?
Belum tentu, dan kedua keadaannya bisa dibedakan dari kalimat di layar. Menyiapkan kode QRIS adalah keadaan normal beberapa saat setelah metodenya dipilih, tidak menandakan apa pun yang rusak, dan tidak perlu ditindaklanjuti. Kode QRIS belum tersedia disertai ajakan memuat ulang halaman atau meminta tautan baru adalah kegagalan yang sesungguhnya, yaitu jalur pembayarannya tidak mengembalikan kode saat diminta. Yang pertama ditunggu, yang kedua dimuat ulang lebih dulu sebelum tautan baru dibuat.
Masa berlakunya lewat saat pembeli baru mau memindai. Bisa diperpanjang?
Tidak. Permintaan yang sudah kedaluwarsa tidak bisa dihidupkan kembali, dan yang dilakukan adalah menerbitkan permintaan baru. Masa berlaku bawaan 60 menit, dan lewat API nilainya bisa ditentukan sendiri saat permintaan dibuat, dengan plafon akun bawaan 24 jam. Satu hal yang menenangkan: uang yang tetap masuk setelah jamnya habis tidak hilang, karena pembayaran yang diterima jalur pembayarannya tetap diakui meski penanda waktu di sisi Kasera Pay sudah lewat lebih dulu.
Apakah QR untuk satu pesanan boleh dicetak dan dipasang di kasir?
Tidak. QR sebuah permintaan pembayaran mengunci dua hal sekaligus, yaitu nominalnya dan jamnya, sehingga barang cetak berisi QR semacam itu sudah mati sebelum tintanya kering. Bentuk yang memang dibuat untuk dicetak adalah halaman pembayaran permanen: alamatnya tetap, bisa dipakai berulang, dan nominalnya bisa dibiarkan dipilih pembayar atau dibatasi pada daftar angka tertentu.
QRIS tidak muncul sebagai pilihan, padahal akun sudah aktif. Kenapa?
Yang paling sering: nominalnya di luar batas metode itu. Nilai bawaannya QRIS menerima mulai Rp 1.000 dan Virtual Account mulai Rp 10.000, keduanya sampai Rp 10.000.000 per pembayaran dan bisa berbeda per akun, dan metode yang batasnya tidak terpenuhi tidak ditawarkan di layar pembayar tanpa satu pun pesan galat. Tagihan Rp 5.000 karena itu tidak pernah menampilkan pilihan Virtual Account, dan itu bukan kerusakan.