Blog · Terbit
Menerima pembayaran jasa renovasi rumah: termin yang diterbitkan saat opname, pekerjaan tambah dan kurang yang tidak pernah jadi refund, dan retensi sebagai tagihan terakhir
Jasa renovasi menagih nominal puluhan juta rupiah untuk pekerjaan yang isinya berubah di tengah jalan. Susunan yang paling sedikit menimbulkan sengketa: termin mengikuti progres yang bisa dilihat, setiap tagihan termin diterbitkan di lokasi sesudah opname bersama pemilik rumah, termin besar dibayar lewat Virtual Account, pekerjaan tambah menjadi tagihan tersendiri, pekerjaan kurang dipotong dari termin berikutnya, dan retensi menjadi tagihan paling akhir. Uang yang sudah masuk lewat QRIS atau Virtual Account tidak punya jalan balik lewat sistem, jadi seluruh susunan ini dirancang agar tidak pernah perlu mengembalikan uang.
Termin yang ditagih saat opname, bukan saat tanggal jatuh tempo
Kontrak renovasi biasanya menulis termin sebagai persentase yang terikat pada tahap pekerjaan: uang muka sebelum bongkar, termin kedua setelah struktur dan instalasi selesai, termin ketiga saat serah terima, dan retensi setelah masa pemeliharaan. Yang sering keliru adalah saat tagihannya dibuat. Permintaan pembayaran dari dashboard berlaku 60 menit, lalu kedaluwarsa. Tagihan yang dikirim malam sebelumnya lewat chat hampir pasti mati sebelum pemilik rumah sempat membuka aplikasi banknya.
Urutan yang bekerja: berjalan keliling bersama pemilik rumah, sepakati bahwa tahapnya memang selesai, baru buat tagihan termin dari ponsel di tempat itu juga. Pemilik rumah membayar sebelum tim pulang, dan status di dashboard berubah menjadi Dibayar karena uangnya dikonfirmasi masuk, bukan karena ada tangkapan layar transfer. Kalau pemilik rumah perlu bertanya dulu kepada pasangannya, tagihan dibiarkan kedaluwarsa dan dibuat baru esok harinya. Tagihan yang kedaluwarsa tidak memakan biaya apa pun.
Isi kolom Keterangan dengan pola yang sama di setiap tagihan, misalnya “Renovasi dapur Jl. Melati 12, termin 2 dari 4, bagian 1 dari 3”. Keterangan itu tampil di halaman pembayaran dan ikut di tanda terima yang dikirim ke email pemilik rumah kalau emailnya diisi, sehingga setiap transfer bisa dicocokkan dengan pasal kontraknya tanpa membuka catatan lain.
Hitungan biaya satu proyek: Virtual Account hampir selalu menang
Contoh ilustrasi: renovasi dapur dan kamar mandi senilai Rp 60.000.000, dengan uang muka 30%, termin kedua 35%, termin ketiga 30%, dan retensi 5%. Maksimum bawaan per pembayaran adalah Rp 10.000.000, jadi tiga termin pertama masing-masing harus dipecah. Tarif yang dipakai adalah tarif yang berlaku saat artikel ini ditulis: QRIS 0,7% + Rp 250 per transaksi berhasil, Virtual Account Rp 5.000 tetap.
| Termin | Nominal | Jumlah tagihan | Lewat Virtual Account | Lewat QRIS |
|---|---|---|---|---|
| Uang muka | Rp 18.000.000 | 2 | Rp 10.000 | Rp 126.500 |
| Termin 2 | Rp 21.000.000 | 3 | Rp 15.000 | Rp 147.750 |
| Termin 3 | Rp 18.000.000 | 2 | Rp 10.000 | Rp 126.500 |
| Retensi | Rp 3.000.000 | 1 | Rp 5.000 | Rp 21.250 |
| Total | Rp 60.000.000 | 8 | Rp 40.000 | Rp 422.000 |
Selisihnya Rp 382.000 untuk satu proyek, dan membesar seiring nilai kontrak. Kalau maksimum Virtual Account untuk akun dinaikkan sehingga setiap termin cukup satu tagihan, biayanya turun lagi menjadi Rp 20.000 untuk empat tagihan. Permintaan itu dikirim ke halo@kasera.id dengan metode, nominal terbesar yang diperkirakan, dan alasannya; rinciannya ada di halaman batas transaksi.
QRIS baru lebih murah di bawah sekitar Rp 678.600, titik tempat 0,7% + Rp 250 sama dengan Rp 5.000. Dalam renovasi, nominal sekecil itu hampir hanya muncul pada pekerjaan tambah kecil. Penjelasan lengkap kapan memakai masing-masing ada di panduan memilih QRIS atau Virtual Account. Satu hal lagi di sisi pemilik rumah: tagihan Rp 10.000.000 bisa tertolak oleh batas transfer harian aplikasi banknya sendiri, bukan oleh Kasera Pay. Gejala dan jalan keluarnya dibahas di tulisan tentang batas transfer pembeli. Untuk termin yang dipecah, menyebar bagian-bagiannya ke dua hari sering lebih mudah daripada meminta pemilik rumah menaikkan batasnya.
Pekerjaan tambah: selalu tagihan tersendiri
Pemilik rumah melihat keramik di rumah tetangga dan ingin menggantinya; dinding yang dibongkar ternyata keropos. Pekerjaan tambah seperti ini disepakati harganya lewat chat atau berita acara singkat, lalu ditagih sebagai permintaan pembayaran sendiri dengan keterangan “Pekerjaan tambah: ganti keramik dinding kamar mandi”. Jangan menumpangkannya ke termin berikutnya. Termin yang nilainya tidak sama dengan kontrak memaksa pemilik rumah menghitung ulang, dan di situlah sengketa biasanya mulai.
Metodenya mengikuti nominal: tambahan Rp 2.750.000 lewat Virtual Account dikenai Rp 5.000 (lewat QRIS Rp 19.500), sedangkan tambahan Rp 400.000 untuk dua titik stop kontak lebih murah lewat QRIS, Rp 3.050 melawan Rp 5.000.
Pekerjaan kurang: dipotong dari termin berikutnya, tidak pernah dikembalikan
Kebalikannya lebih rumit. Kalau pemilik rumah membatalkan kitchen set yang sudah masuk hitungan uang muka, uangnya tidak bisa ditarik kembali lewat Kasera Pay: pembayaran QRIS dan Virtual Account yang berhasil bersifat final, dan satu-satunya jalan balik adalah transfer dari rekening kontraktor sendiri, dengan biaya transaksi yang tetap terpotong.
Cara yang tidak memindahkan uang dua kali: catat nilai pekerjaan kurang dalam berita acara, lalu kurangi dari termin berikutnya. Pekerjaan kurang Rp 1.200.000 membuat termin ketiga menjadi Rp 16.800.000, dan keterangan tagihannya menyebut potongan itu. Inilah alasan retensi berguna bagi kedua pihak: ia adalah tempat terakhir untuk menyelesaikan selisih tanpa transfer balik. Pertimbangan umum tentang besar uang muka dan risiko yang berpindah bersama pembagian termin dibahas di perbandingan uang muka dan pembayaran penuh di muka.
Retensi: tagihan terakhir, diterbitkan setelah masa pemeliharaan
Retensi 5% ditahan selama masa pemeliharaan yang disepakati, misalnya 30 hari setelah serah terima. Jangan menerbitkannya bersamaan dengan termin ketiga untuk “dibayar nanti”: tagihannya kedaluwarsa dalam 60 menit. Catat tanggal akhir masa pemeliharaan, kunjungi atau hubungi pemilik rumah saat itu, perbaiki keluhan yang ada, lalu terbitkan tagihan retensi setelah pemotongan pekerjaan kurang yang belum terselesaikan.
Uang muka, material, dan uang milik orang lain
Uang muka sebaiknya ditagih saat jadwal mulai sudah dekat, bukan untuk mengunci giliran berbulan-bulan sebelumnya. Halaman penggunaan yang dilarang di Kasera Pay meminta persetujuan tertulis lebih dulu untuk hal yang dibayar jauh sebelum diserahkan, dan kontraktor yang memang menerima uang muka untuk proyek yang mulainya masih lama perlu bertanya dulu.
Uang termin baru bisa dipakai membeli material setelah dicairkan ke rekening yang sudah diverifikasi, dengan biaya Rp 3.000 per pencairan dan jadwal yang dipilih sendiri; cara kerjanya ada di panduan pencairan dana. Pencairan hanya ke rekening milik akun, jadi upah tukang tetap dibayar dari rekening kontraktor seperti biasa.
Hati-hati dengan uang yang sebenarnya milik usaha lain. Kalau bengkel kitchen set atau tukang AC hanya menitipkan tagihannya lewat kontraktor, kontraktor sedang menerima pembayaran atas nama usaha lain, yang juga butuh persetujuan tertulis. Dua jalan yang bersih: kontraktor membeli barang itu sebagai belanjanya sendiri dan menagihnya sebagai bagian dari pekerjaannya, atau pemasok menagih pemilik rumah langsung. Material yang dibayar pemilik rumah langsung ke toko mengikuti pola yang dibahas di tulisan untuk toko bahan bangunan.
Menyiapkan akunnya
Selesaikan verifikasi sebelum proyek pertama. Sebelum terverifikasi, akun hanya punya jatah 10 permintaan pembayaran dengan total Rp 1.000.000 seumur akun, dan satu bagian uang muka sudah melewatinya. Setelah itu nyalakan QRIS dan Virtual Account di Pengaturan, Metode pembayaran, tetapkan pola keterangan yang dipakai semua orang, dan undang mandor atau admin kantor sebagai Staf supaya tagihan bisa dibuat di lokasi tanpa membagikan login pemilik.
Pertanyaan yang sering muncul
Bisakah termin Rp 21.000.000 dibayar dalam satu tagihan?
Tidak dengan batas bawaan. Maksimum per pembayaran adalah Rp 10.000.000 untuk setiap metode, jadi termin sebesar itu dipecah menjadi tiga tagihan, masing-masing dikenai biayanya sendiri. Kontraktor yang rutin menagih termin besar bisa meminta maksimum Virtual Account untuk akunnya dinaikkan lewat halo@kasera.id dengan menyebut nominal terbesar yang diperkirakan. Batas transfer harian di rekening pemilik rumah tetap berlaku di luar itu.
Pemilik rumah minta uang dikembalikan karena satu pekerjaan dibatalkan. Bagaimana caranya?
Pembayaran QRIS dan Virtual Account yang sudah berhasil tidak bisa dikembalikan lewat Kasera Pay. Kalau masih ada termin berikutnya, potong nilainya dari termin itu. Kalau proyek sudah di termin terakhir, potong dari retensi. Hanya kalau keduanya sudah lunas, selisihnya ditransfer kontraktor dari rekening banknya sendiri, dan biaya transaksi yang sudah terpotong tidak kembali.
Apakah mandor atau admin kantor bisa membuat tagihan tanpa memegang akses ke uangnya?
Bisa, dengan mengundangnya sebagai anggota tim berperan Staf. Staf bisa membuat, melihat, dan membatalkan permintaan pembayaran serta melihat riwayat pencairan, tetapi tidak bisa menekan Cairkan sekarang, mengganti rekening pencairan, atau mengubah jadwal pencairan.