Blog · Terbit
Menerima pembayaran di kantin dan food court: satu QR per tenant, bukan satu kasir untuk semua, porsi Rp 8.000 yang biayanya hampir 4%, dan sewa tenant yang ditagih lewat Virtual Account
Kantin dan food court berbeda dari warung biasa karena satu hal: di satu tempat ada beberapa penjual, dan masing-masing punya uangnya sendiri. Pertanyaan pertama karena itu bukan “pakai QRIS apa”, melainkan “uang pembeli masuk ke rekening siapa”. Jawaban yang paling sederhana dan paling aman hampir selalu sama: satu QR per tenant, dan uang setiap tenant masuk langsung ke rekening tenant itu. Pengelola tidak ikut memegang uang dagangan, dan yang ditagih pengelola dari tenant hanyalah sewa atau bagi hasilnya, sebulan sekali.
Satu kasir untuk semua, atau satu QR per tenant
| Susunan | Siapa yang memegang uang | Pekerjaan yang muncul |
|---|---|---|
| Kasir terpusat, satu QR untuk seluruh food court | Pengelola, lalu dibagikan ke tenant | Rekap per tenant setiap hari, transfer pembagian, selisih yang harus dijelaskan, dan kasir yang harus tahu harga semua menu |
| Satu QR per tenant | Tenant sendiri, langsung | Pengelola hanya menagih sewa atau bagi hasil setiap bulan |
Kasir terpusat terlihat rapi dari sisi pembeli, tetapi pengelolanya berubah menjadi pihak yang memegang uang orang lain. Setiap sore ada pekerjaan menghitung berapa milik tenant bakso, berapa milik tenant jus, lalu mentransfernya satu per satu. Kalau satu porsi salah dicatat, selisihnya menjadi urusan dua pihak. Untuk Kasera Pay, menerima pembayaran atas nama usaha atau orang lain termasuk kegiatan yang harus diberitahukan dan menunggu persetujuan tertulis sebelum dimulai, dan meminjamkan akun sendiri sebagai layanan penerimaan pembayaran bagi para tenant tidak diizinkan sama sekali.
Kenapa pengelola tidak bisa membuka satu usaha per tenant di loginnya sendiri
Satu login Kasera Pay memang bisa memegang beberapa usaha, maksimal lima sebagai pemilik. Ide yang sering muncul: pengelola membuat usaha “Tenant Bakso”, “Tenant Jus”, dan seterusnya di loginnya sendiri. Masalahnya ada di rekening pencairan. Rekening itu melekat pada orang yang menyelesaikan verifikasi, bukan pada usahanya, sehingga semua usaha milik satu orang mencairkan ke rekening yang sama. Uang lima tenant tetap mendarat di rekening pengelola, dan susunan itu sama dengan kasir terpusat yang tampilannya lebih rumit. Rinciannya ada di perbandingan satu akun untuk beberapa usaha dan akun terpisah.
Yang benar: setiap tenant mendaftar sendiri, dengan KTP dan rekeningnya sendiri. Penjaga etalase yang bukan pemilik tenant bisa diundang sebagai Staf di usaha tenant itu. Staf bisa membuat, melihat, dan membatalkan permintaan pembayaran, tetapi tidak bisa mengubah rekening pencairan. Kalau tenant itu kelak pindah ke food court lain, akun dan riwayat transaksinya ikut bersamanya, karena tidak pernah menjadi milik pengelola.
Antrean jam istirahat: porsi kecil dan komponen Rp 250
Semua angka berikut adalah contoh dengan tarif default saat artikel ini ditulis: QRIS 0,7% + Rp 250 per pembayaran berhasil, bagian persennya dibulatkan ke atas.
| Pembelian (ilustrasi) | Nominal | Biaya QRIS Kasera Pay | Porsi dari nominal |
|---|---|---|---|
| Gorengan dan es teh | Rp 5.000 | Rp 285 | 5,7% |
| Nasi dengan satu lauk | Rp 8.000 | Rp 306 | 3,8% |
| Mi ayam atau bakso | Rp 15.000 | Rp 355 | 2,4% |
| Makan siang lengkap dengan minum | Rp 25.000 | Rp 425 | 1,7% |
Untuk antrean di depan etalase, angka ini perlu dibaca jujur. Penjual memegang makanannya sampai pembeli menunjukkan bukti bayar, jadi pencocokan pembayaran dengan pesanan sudah terjadi di tempat. QRIS statis dari bank tenant sendiri, yang MDR-nya kini nol untuk transaksi sampai Rp 100.000, biasanya lebih murah untuk antrean seperti itu. Rinciannya ada di artikel biaya QRIS 2026, dan pertimbangan yang sama untuk meja kasir dibahas di artikel pembayaran kedai kopi dan kafe.
Kalau tenant tetap ingin setiap porsi tercatat dengan nominal pas, misalnya karena etalasenya dijaga karyawan, caranya adalah membuat permintaan pembayaran di aplikasi Android atau dashboard, lalu menunjukkan QR di layar ponsel penjaga. Nominalnya terkunci di kode itu, jadi pembeli tidak mengetik apa pun. Jangan andalkan QR cetak untuk antrean: QR dari halaman pembayaran bukan QRIS statis, hasil pindainya membuka halaman di ponsel pembeli, dan QRIS untuk pembayarannya tampil di ponsel yang sama. Pembeli harus menyimpan gambar QR lalu mengunggahnya dari galeri, dan antrean berhenti di situ.
Tempat per-transaksi justru sepadan: pesanan sebelum dimasak
Bagian kantin yang paling diuntungkan oleh tagihan per pesanan bukan antrean, melainkan pesanan yang masuk sebelum jam makan. Kantin kantor yang menerima pesanan makan siang lewat grup WhatsApp sejak pukul 09.00 menanggung risiko porsi yang sudah dimasak tetapi tidak diambil. Satu permintaan pembayaran per pemesan, dibayar sebelum pukul 10.30, memindahkan risiko itu: yang dimasak hanya yang sudah Dibayar. Pesanan satu divisi untuk 20 porsi Rp 20.000 dalam satu tagihan Rp 400.000 dikenai Rp 3.050, sekitar 0,76%.
Dua hal perlu diingat. Permintaan yang dibuat dari dashboard berlaku 60 menit, jadi tautan dikirim saat rekap pesanan ditutup, bukan saat grup baru dibuka. Dan permintaan yang sudah dibatalkan atau kedaluwarsa masih bisa dibayar dengan QR yang terlanjur dipegang pemesan, sehingga sebelum membuat tagihan pengganti, periksa dulu Transaksi supaya tidak terjadi pembayaran yang masuk dua kali. Untuk kantin sekolah, pola yang setara adalah paket makan siang bulanan yang dibayar orang tua; penagihan per periode seperti itu dibahas di artikel pembayaran usaha katering. Satu hal yang sebaiknya tidak dijalankan: saldo uang saku siswa yang dititipkan di kantin, karena itu berarti memegang uang orang lain untuk makanan yang belum dibeli.
Pengelola menagih sewa dan bagi hasil tenant
Di sisi pengelola, pembayarannya sedikit tetapi besar: sewa stan, iuran listrik dan kebersihan, atau bagi hasil dari omzet. Di nominal seperti ini Virtual Account lebih murah daripada QRIS. Sewa Rp 1.500.000 lewat Virtual Account dikenai Rp 5.000, sedangkan lewat QRIS Rp 10.750. Food court dengan 12 tenant membayar Rp 60.000 sebulan untuk seluruh penagihan sewa, ditambah Rp 3.000 per pencairan ke rekening pengelola. Batas bawaan satu pembayaran adalah Rp 10.000.000. Sewa tahunan di atas angka itu bisa ditagih per bulan atau per triwulan, atau maksimum Virtual Account akun pengelola dimintakan naik lewat halo@kasera.id.
Untuk bagi hasil, tagihannya baru bisa dibuat setelah omzet tenant diketahui. Tulis periode dan nama tenant di keterangan, misalnya Bagi hasil Sept, Stan 4 Bakso, karena kotak pencarian di Transaksi mencocokkan keterangan dan nomor pesanan. Virtual Account Kasera Pay tersedia di BRI, BNI, Mandiri, Permata, CIMB Niaga, Danamon, dan Maybank, dan tenant memilih banknya sendiri di halaman pembayaran.
Sebelum QR dipasang di meja
Setiap tenant menyelesaikan verifikasinya sendiri lebih dulu, karena jatah sebelum verifikasi hanya 10 permintaan atau Rp 1.000.000 seumur usaha. Nyalakan notifikasi di ponsel yang dipegang penjaga, karena push aplikasi Android dan notifikasi browser memberi tahu pembayaran yang masuk tanpa harus membuka Transaksi; status Dibayar itulah bukti bayar, bukan tangkapan layar pembeli. Coba satu pembayaran di mode Sandbox dari awal sampai Dibayar. Untuk pesanan dan halaman pembayaran yang dipakai berulang, pengaturan nominal dan format cetaknya ada di panduan halaman pembayaran yang dipakai berulang.
Pertanyaan yang sering muncul
Bolehkah pengelola food court memakai satu akun Kasera Pay untuk semua tenant?
Tidak tanpa persetujuan tertulis lebih dulu. Menerima pembayaran atas nama usaha atau orang lain termasuk kegiatan yang harus diberitahukan dan disetujui sebelum dimulai, karena uang pembeli milik tenant ikut dipegang pengelola. Menyediakan akun sendiri sebagai layanan penerimaan pembayaran untuk para tenant tidak diizinkan sama sekali. Susunan yang tidak membutuhkan persetujuan apa pun adalah setiap tenant mendaftar sendiri dengan identitas dan rekeningnya sendiri.
Berapa biaya QRIS untuk satu porsi di kantin?
QRIS dikenai 0,7% + Rp 250 per pembayaran berhasil, dengan bagian persennya dibulatkan ke atas. Contohnya Rp 285 untuk Rp 5.000, Rp 306 untuk Rp 8.000, Rp 355 untuk Rp 15.000, dan Rp 425 untuk Rp 25.000. Pada porsi kecil, komponen Rp 250 itulah yang membuat biayanya terasa, jadi antrean di depan etalase biasanya lebih murah lewat QRIS bank yang sudah dipegang tenant.
Apakah QR yang dicetak dari dashboard bisa langsung dipindai aplikasi e-wallet?
Tidak. QR cetak dari halaman pembayaran adalah QR tautan, bukan QRIS statis. Pembeli memindainya dengan kamera, halaman pembayaran terbuka di ponselnya, lalu QRIS untuk pembayaran itu tampil di layar ponsel yang sama. Untuk membayarnya, pembeli menyimpan gambar QR lalu mengunggahnya dari galeri aplikasi bank atau e-wallet. Di antrean jam istirahat, langkah itu terlalu panjang.
Apakah tenant bisa menerima pembayaran sebelum akunnya terverifikasi?
Bisa untuk mulai, dengan batas: sebelum verifikasi disetujui, setiap usaha memakai jatah awal 10 permintaan pembayaran atau total Rp 1.000.000 seumur akun. Kantin yang melayani puluhan pembeli sehari menghabiskannya di hari pertama, jadi verifikasi sebaiknya selesai sebelum QR dipasang di meja.
Panduan per jenis usaha
- Laundry
- Katering
- Bengkel motor dan mobil
- Klinik gigi dan praktik dokter
- Fotografi dan videografi
- Bimbel dan les privat
- Gym dan studio kebugaran
- Sewa lapangan olahraga
- Homestay dan villa
- Rental alat
- Toko bahan bangunan
- Jasa renovasi rumah
- Jasa pindahan rumah
- Percetakan dan digital printing
- Pet shop dan penitipan hewan
- Open trip
- Depot air minum isi ulang
- Toko bunga dan papan bunga
- Sekolah sepak bola dan klub olahraga anak
- Servis HP dan laptop
- Kursus mengemudi
- Sanggar tari dan kursus musik
- Aqiqah dan hewan kurban
- Antar-jemput sekolah
- SPP sekolah swasta, madrasah, dan pesantren
- Kue rumahan
- Jualan sayur online
- Warung dan kasbon
- Kedai kopi dan kafe
- Penjahit dan konveksi
- Kos dan kontrakan
- Jastip
- Freelancer
- Jasa website dan hosting
- Jasa panggilan di tempat